Dua Ekor Burung yang Bersaksi

Dua Ekor Burung yang Bersaksi – Dikisahkan, bahwa suatu ketika Abu Nashr bin Marwan duduk-duduk Bersama seorang pemuka suku kurdi. Tidak lama kemudian, dihidangkanlah kepada mereka dua ekor burung panggang. Entah mengapa, tiba-tiba orang Kurdi tertawa terbahak-bahak. Ia tidak dapat menahan tawanya saat menyaksikan dua ekor burung yang dipanggang dan disajikan di hadapannya.

“Apa yang membuatmu tertawa?” tanya Abu Nashr terheran-heran.

“Ah, tidak! Kedua ekor burung ini mengingatkanku akan masa laluku…,”jawabnya.

“Apa gerangan itu?” tanya Abu Nashr semakin heran.

Mulailah pria Kurdi itu bbertutur, “Dahulu sewaktu aku masih muda, aku adalah seorang perampok. Suatu hari, ada seorang pedagang kaya yang berjalan melintas dihadapanku. Tentu saja aku tidak membuang kesempatan itu. Aku merampok dan menangkapnya. Tidak hanya itu, aku bahkan berniat menghabisi nyawanya. Dan ketika aku akan membunuhnya, pedagang itu memohon-mohon kepadaku agar aku tidak membunuhnya.

Ketika pedagang malang itu sadar bahwa ia tidak mungkin lolos dari maut, ia kemudian melengok ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba melintaslah dua ekor burung lalu hinggap bertengger di dekatnya. Melihat kedua ekor burung itu, ia segera berkata: ‘Wahai dua ekor burung, jadilah kalian berdua sebagai saksi bahwa perampok ini telah membunuhku secara zhalim!

Hm, betapa bodohnya ia menurutku. Meminta dua ekr burung untuk bersaksi. Akupun segera membunhnya. Dan kini, “Ha…ha…ha…melihat dua ekor burung panggang ini, aku teringat pada kebodohan pedagang kaya itu saat meminta dua ekor burung yang bertengger untuk menjadi saksi kejahatanku..ha…ha…ha…”

Demikian ia berkisah, tanpa ia sadaribahwa karena ke dua ekor burung panggang itulah ia mengakui dan menceritakan kejahatannya sendiri di hadapan Abu Nashr. Mendengar penuturannya, Abu Nashr segera berkata:

“Demi Allah, betapa bodohnya engkau! Bukankah baru saja kedua ekor burung itu memberikan kesaksiannya atas kejahatanmu melalui mulutmu sendiri?!!”

Pria Kurdi itu terperangah. Ia terkejut sendiri. Wajahnya pucat. Ia baru tersadar bahwa ia dengan bodohnya telah menceritakan kejahatannya sendiri.

Tidak lama setelah itu, ia segera dilaporkan kepada yang berwajib. Dan tak lama berselang, lehernya dipancung sebagai bentuk Qishash atas kejahatannya terhadap pedagang yang malang itu.

 

Hikmah dan Pelajaran :

Subhanallah…Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui semua perbuatan hambaNya. Tidak ada yang tersembunyi dariNya. Dan dengan cara dan jalan yang tak terduga sama sekali. Allah dapat mengungkap kejahatan dan kecurangan yang kita lakukan. Karena itu, berhati-hatilah selalu. Jangan memandang remeh kekuasaan Allah.

Bagikan ke teman Anda

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Baca artikel menarik lainnya...