Jangan Sombong dengan Ilmu yang Dimiliki

Jangan Sombong dengan Ilmu yang Dimiliki – Kisah ini diceritakan oleh seorang ulama besar bernama Syaikh Abul Hasan Al-Nadawy. Kisah tersebut adalah sebagai berikut:

Pada suatu masa, sebuah rombongan anak sekolah berlayar menumpangi sebuah kapal. Hari itu mereka sangat riang gembira. Mereka bercanda dan bersenda gurau dengan sang pengemudi kapal. Lebih tepatnya, mereka menjadikan sang nahkoda itu sebagai bahan gurauan dan olok-olok. Apalagi sang nahkoda ternyata seorang yang buta huruf dan tidak pernah menduduki bangku sekolah sama sekali.

Salah seorang murid yang cerdas dan berani kemudian bertanya kepada sang nahkoda, “Wahai paman, ilmu apa gerangan yang telah engkau pelajari?”

“Tidak satu pun, anakku,” jawab sang nahkoda.

”Tidakkah engkau pernah mempelajari Ilmu alam, wahai paman?”

“Tidak, aku bahkan belum pernah mendengarkan ilmu itu sebelumnya…,jawab nahkoda lugu.

Tiba-tiba murid yang lain berkata, “Tetapi Paman pasti pernah mempelajari tentang ilmu aljabar, perbandingan dan geometri!”

“Wah itu lebih aneh lagi. Kalian harus percaya bahwa baru kali ini aku mendengarkan nama-nama ‘aneh’ dan mengejutkan itu,” jawab sang nahkoda dengan penuh keheranan.

Lalu murid yang ketiga turut pula berbicara, “Tetapi aku sangat yakin kalua Paman pernah mempelajari ilmu geografi dan sejarah!”

“Hm apakah dua nama yang kau sebutkan baru saja itu adalah nama dua negara atau nama dua orang?” tanya Pak Nahkoda kebingungan.

Mendengar jawaban itu, ketiga murid sekolah tadi tidak lagi kuasa menahan rasa geli dan tawa mereka. Dan mereka pun tertawa sekeras-kerasnya melihat keluguan sang nahkoda Sambil tertawasekeras -kerasnya melihat keluguan sang nahkoda. Sambil tertawa, mereka bertanya: “Wahai paman, berapa gerangan usia Anda sekarang?”

“Berarti Paman telah menyia-nyiakan setengah usia Anda tanpa mempelajari ilmu apapun…,” ujar para murid tersebut.

Dan sang pelaut itupun hanya bias terdiam menahan kekesalannya. Ia bersabar menunggu saatnya untuk ‘membalas dendam’. Waktu pun berputar. Hingga tiba-tiba laut bergerak kencang dan mulai berombak . Tidak lama kemudian, ombak itu semakin meninggi, megombang-ambing kapal itu. Lidah-lidah laut seperti siap untuk menelan siapapun yang ada dihadapannya.

Anak-anak itupun mulai merasa ketakutan di atas perahu itu. Ini adalah pengalaman pertama mereka berlayar di tengah lautan. Wajah mereka mulai memucat. Semakin lama mereka semakin tegang. Dan perahu itu semakin terancam untuk tenggelam…

Kini, tibalah giliran pelaut yang buta huruf itu. Ia tersenyum menyaksikan wajah-wajah pucat anak-anak yang mempermaikannya sejak tadi. Di tengah gejolak lautan itu,  dengan tenang ia bertanya kepada mereka, “Ilmu apakah yang telah kalian pelajari di sekolah, wahai anak-anak muda?”

Anak-anak itu tidak tahu apa maksud sang pelaut. Tapi mereka dengan lugu tetap saja menyebutkan daftar Panjang ilmu yang pernah mereka pelajari di sekolah mereka. Mereka belum dapat menangkap mengapa sang pelaut itu menanyakan pertanyaan itu kepada mereka.

Setelah mereka menyebutkan semua ilmu yang pernah mereka pelajari, sang pelaut pun tertawa renyah. Lalu ia berkata: “Wahai anak-anakku, kalian telah mempelajari begitu banyak ilmu yang aku sendiri belum pernah mendengarkannya. Tapi apakah kalian telah mempelajari ilmu berenang? Apakah kalian mengetahui bahwa kalau perahu ini terbalik, bagaimana kalian berenang dan sampai dengan selamat ke tepi pantai??!”

Anak-anak itu tertegun. Mereka terkejut dengan pernyataan sang pelaut. “Demi Allah, wahai paman! Itulah satu-satunya ilmu yang belum pernah kami pelajari dan perhatikan!”

Saat itulah, sang pelaut itu tertawa sepuas-puasnya.

“Ha..ha..ha…bila aku menyia-nyiakan setengah usiaku, maka kalian telah membuang seluruh hidup kalian di lautan ini karena kalian tidak bias berenang. Semua ilmu yang kalian pelajari itu tidak dapat membantu kalian di tengah gelombang! Di tengah gelombang ini, hanya satu ilmu yang dapat menyelamatkan kalian yaitu ilmu berenang. Dan itu tidak kalian ketahui!”

Tinggallah anak-anak itu terdiam membisu dengan wajah pucat menunggu perahu itu tenggelam…

 

Hikmah dan Pelajaran :

Sehebat dan sepintar apapun kita, tidak sepantasnya kita menjadi sombong dan merasa paling hebat. Sebab di atas semuanya, ada Allah Yang Maha Mengetahui. Ilmu yang diberikan Allah kepada manusia hanyalah setitik dari ilmuNya Yang Maha Luas. Meskipun kita orang yang pandai dan menguasai banyak ilmu-ilmu keduniaan, namun itu tidak akan berguna jika kita tidak menguasai ilmu-ilmu agama yang menunjukan kepada kita jalan kesalamatan di Akhirat. Jadi, kuasi ilmu agama dan pahami ilmu dunia, agar sukses dunia akhirat.

Bagikan ke teman Anda

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Baca artikel menarik lainnya...